Opini
Oleh : Muhamad Zen
SETELAH bertahun-tahun merantau dan merasa sukses di luar kota, akhirnya pulang dengan penuh kebanggaan. Merasa paling tahu segalanya, dan seolah kampung halaman ini baru saja ditemukan kembali. Tak lama kemudian, dengan segala pengalaman gemilang, mereka pun mendeklarasikan diri sebagai calon pemimpin Kota Pangkalpinang.
Ada yang katanya pengusaha sukses, ada pejabat tingkat pusat yang bersiap pensiun sebelum bulan Agustus, ada pensiunan jenderal yang kini ingin mengabdi. Bahkan, ada pengusaha muda yang tiba-tiba menyematkan nama jalan di kota Pangkalpinang di belakang namanya, mungkin sebagai jurus branding mendadak. Tak ketinggalan, ada juga yang jelas-jelas bukan orang tempatan, tapi tiba-tiba jatuh cinta luar biasa pada Pangkalpinang—mirip kisah cinta lama yang baru bersemi kembali.
Sebagai warga Pangkalpinang, tentu kami tersentuh dengan gelombang “kepedulian” ini. Mereka datang membawa slogan perubahan, pembangunan, dan modernisasi. Ditanya motivasinya, jawabannya hampir seragam: “Ingin mengabdi untuk kampung halaman.” Sungguh mulia.
Namun, boleh kami bertanya? Kemarin ke mana saja? Saat masyarakat Pangkalpinang berjuang mempertahankan demokrasi, ketika pilihan yang ada begitu terbatas, saat kotak kosong menjadi satu-satunya harapan, kalian sedang di mana? Saat rakyat berusaha membuka jalan bagi Pilkada ulang, kalian sibuk apa?
Tapi tentu, kami tidak ingin menghakimi. Setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih. Justru kami senang kini ada begitu banyak sosok dengan segudang pengalaman yang ingin berkontribusi untuk kota ini. Siapa tahu, jaringan luas dan pengalaman nasional bahkan internasional yang kalian miliki benar-benar bisa membawa Pangkalpinang melangkah lebih maju.
Hanya saja, perlu diingat, perjuangan ini tidak datang begitu saja. Pilkada ulang ini ada karena banyak orang yang tak tinggal diam ketika demokrasi mulai terasa sempit. Mungkin, sekadar mengakui perjuangan mereka bisa menjadi awal yang baik sebelum sibuk memasang baliho dan menyebar senyum di tiap sudut kota.
Menariknya, di antara pendukung yang kini ramai di belakang kalian, ada juga yang dulu gigih mendukung calon tunggal. Bahkan, ada yang terang-terangan menyebut perjuangan kotak kosong sebagai tindakan sia-sia. Tapi ya sudahlah, politik memang dinamis, dan ingatan masyarakat pun kadang selektif.
Kini, panggung Pilkada ulang sudah siap. Wajah-wajah baru bermunculan, janji-janji baru bertebaran, dan tentu saja, drama politik akan kembali tersaji. Masyarakat Pangkalpinang punya kesempatan untuk memilih dengan bijak. Jangan mudah tergoda janji manis, jangan silau dengan baliho terbesar atau senyum termanis. Sebab, seperti kata pepatah, memilih pemimpin itu seperti memilih pasangan hidup—salah pilih, bisa menyesal lima tahun lamanya!
Tentang Penulis:
Muhamad Zen adalah wartawan yang terlalu banyak ngopi dan kritikus sosial yang sering kehabisan kata-kata untuk mengkritik. Sayangnya, kata-kata itu selalu berhasil ditemukan lagi setelah tegukan kopi berikutnya.
Sebagai alumni Fakultas Ilmu Hukum Perkeliruan dan Ilmu Politik Perkeliruan Universitas Gunung Maras (UGM), yang entah universitasnya yang typo atau memang cerminan hidupnya yang sering keliru, Zen tetap nekat menulis. Katanya, dunia ini penuh kesalahan, jadi tak ada salahnya ikut-ikutan.
Sebagian orang bilang kadang-kadang tulisan-tulisannya tajam, namun tak sedikit yang bilang biasa-biasa saja. Bahkan ada yang bilang dia kritis, ada juga yang bilang dia hanya kurang tidur. Tapi satu hal yang pasti, Zen selalu punya pertanyaan yang mungkin membuat sebagian orang merasa tak nyaman: “Kemarin ke mana saja?”
Makin larut malam, makin lancar dia menulis. Mungkin karena di jam-jam itu, dunia lebih jujur, atau mungkin hanya karena kafein yang sudah kebanyakan masuk ke tubuhnya.
Catatan Redaksi :
————————————
Isi narasi opini ini di luar tanggung jawab Redaksi, apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dalam penyajian artikel, opini atau pun pemberitaan tersebut diatas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan atau koreksi kepada redaksi media kami, sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (11) dan ayat (12) undang-undang No 40 tahun 1999 tentang Pers.
Berita Sanggahan dan atau opini tersebut dapat dikirimkan ke redaksi media kami melalui email atau nomor whatsapp seperti yang tertera di box Redaksi.